Rapat Pembahasan Laporan Akhir Pemetaan Potensi Pergaraman di Provinsi Banten

Rapat Pembahasan Laporan Akhir Pemetaan Potensi Pergaraman  di Provinsi Banten
Rapat Pembahasan Laporan Akhir Pemetaan Potensi Pergaraman  di Provinsi Banten

Senin, 05 September 2022, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bidang Pengelolaan Sumberdaya Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menyelenggarakan rapat Laporan akhir terkait Pemetaan Pergaraman di Provinsi Banten. Rapat ini diselenggarakan di Ruang Rapat Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten dengan dihadiri oleh Pejabat Eselon III Terkait Pergaraman di Lingkungan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten dan Tim Tenaga Ahli Penyusunan Pemetaan Potensi Pergaraman Universitas  Sultan Ageng Tirtayasa. Secara keseluruhan di Pesisir Provinsi Banten cukup sesuai untuk dilakukan lokasi tambak garam, paling sesuai di Pesisir Banten Bagian Utara. Kajian dalam kegiatan ini adalah pemetaan pergaraman di Provinsi Banten berdasarkan Indeks Kesesuaian Lahan Tambak Garam (IKG). Kriteria yang digunakan untuk kesesuaian lahan tambak garam berdasarkan IKG antara lain parameter curah hujan, permeabilitas tanah, jenis tanah, lama penyinaran, kelembaban udara, kecepatan angin, suhu udara, tingkat penguapan, tingkat kejenuhan air laut, salinitas, kualitas air laut dan kandungan mineral.

Penentuan pengambilan sampel survei lapang berdasarkan kelerengan (Slope) yaitu kurang dari 40%, pertimbangannya meminimalisir biaya. Kendala keseluruhan yaitu curah hujannya masih tinggi sehingga perlu teknologi tambahan untuk tambak garam misalnya menggunakan prisma (rumah kaca) untuk menutup tambak garam namun biayanya tinggi. Pengambilan sampel survei lapang potensi tambak pergaraman pada 10 titik lokasi dihasilkan beberapa lokasi Sangat Sesuai (S1) yaitu Karangantu, Lontar, Pulau Dua, Tanjung Kait; Lokasi Cukup Sesuai (S2) yaitu Domas, Tanjung Pasir, Sumur, Panggarangan; 1 lokasi Sesuai Bersyarat (S3) yaitu Binuangeun; dan 1 lokasi tidak sesuai (N) Teluk Papat dikarenakan pertimbangannya yaitu lokasinya banyak terdapat mangrove, dekat aliran sungai (tingkat kejenuhannya rendah), salinitas rendah, kualitas air tidak sesuai.

Pergaraman ini sangat perlu dikaji karena adanya ketimpangan-ketimpangan antara panjang garis pantai Provinsi Banten dengan potensi pergaraman yang baru dimanfaatkan sekian persen saja (<10%) untuk sekedar memenuhi kebutuhan pokok saja belum terpenuhi. Perlu adanya inovasi terbarukan untuk pemenuhan kebutuhan garam di Provinsi Banten antara lain Pergaraman Non Tambak atau jika lebih ekstrim bisa membuat inovasi garam cair agar tidak perlu pengkristalan garam lagi. Perlu sekali kajian ini ditindak lanjuti, karena kajian saat ini hanya sebagai langkah awal yaitu pemetaan potensi pergaraman, perlu keberlanjutan terkait kebutuhan-kebutuhan tertentu secara tematik misalnya berkaitan langsung dengan industri, produksinya, kebutuhan sehari-hari dll.